Hello, Puan Member

Most Popular

Puan TV



Jakarta, puanpertiwi.com Jika dulu pelakor (perebut laki orang) takut dan masih malu untuk mempublish statusnya ke orang lain. Sekarang, tidak lagi. Lewat media sosial, pelakor ini sudah tak malu lagi mempublish keberadaan mereka penganggu atau pun perebut suami orang. Bahkan sepertinya mereka memang ingin menunjukkan kepada dunia  posisinya sebagai pelakor!
Media sosial memang menjadi media sharing bagi masyarakat Indonesia.

Mulai dari kegiatan keseharian mereka sampai keluarga dan event-event tertentu. Sayangnya tak semua menggunakan keberadaan media sosial ini untuk hal-hal yang positif, masih banyak orang-orang yang tidak bertanggung jawab.  Akhir-akhir ini pengguna media sosial memiliki istilah baru yang sedang ramai dan menjadi perbincangan dimana-dimana. Istilah pelakor atau valakor yang berarti perebut suami orang lain. Tidak hanya masyarakat biasa yang bisa mendapat julukan pelakor. Namun, artis ada beberapa dijuluki sebagai pelakor. Profesi mereka yang menjadi perhatian publik tentunya akan semakin diperhatikan lagi gerak-geriknya ketika cap pelakor menempel di dirinya. Jika sudah seperti itu, maka tak ada lagi privasi dan segala tingkah laku harus dijaga.

Fenomena ini banyak muncul, lagi-lagi dilihat dari media sosial. Banyak status dengan kasus seperti itu, banyak juga yang membagikan kasus-kasus seperti itu. Dalam istilah pelakor yang aktif merebut adalah si perempuan. Bandingkan dengan istilah sejenis yang sempat populer dalam beberapa saat sebelumnya, yaitu WIL alias Wanita Idaman Lain.

Dalam istilah WIL kaum perempuan tidak terkesan agresif, sekadar objek, bukan subjek. Sementara dalam istilah pelakor si wanita yang 'dituduh' sebagai perebut. Jelas, istilah pelakor hanya bisa diterapkan kepada kaum perempuan. Jika digunakan untuk orang laki-laki mungkin istilahnya perlu disesuaikan menjadi perirang atau pebirang (perebut istri orang) atau (perebut bini orang).

Banyak Artis Yang Di Cap Pelakor
Entah ingin memanas-manasi istri syah dari suami yang direbutnya atau ingin menunjukkan jati dirinya, para pelakor ini memang sengaja memasang status di media sosial yang bisa bikin istri-istri syah jadi geram.  Baik dengan status yang smooth atau pun yang terang-terangan.  Salah satu kasus pelakor yang menghebohkan dunia maya adalah Tasya Seputry. Nama Tasya Seputry ramai diperbincangkan netizen di Facebook. ia mendadak menjadi perbincangan bukan karena penampilan 'berani' nya di media sosial.

Tapi terutama karena pernyataan dan statusnya yang mengumbar aib sebagai pelakor. Tasya tak sengan mengunggah status di fbnya dengan kata-kata yang bisa membuat orang langsung mencapnya sebagai pelakor.
"Ingin bertahan tapi dia punya orang, ingin kulepaskan tapiku suka caramu memperlakukanku yang membuatku tak peduli kamu siapa dan milik siapa"
"habiskan waktumu bersama istrimu hari hari tapi ada waktunya juga kamu milikku"
            
Urusan pelakor ini tak hanya dilakukan oleh masyarakat umum saja, dunia hiburan sedang dikejutkan dengan munculnya video Nikita Mirzani yang sedang clubbing dan mesra bersama Zack Lee, yang diketahui masih berstatus suami dari Nafa Urbach. Nafa Urbach pun membuka suara lewat postingannya di Instagram. Nafa membenarkan bahwa yang bersama Nikita Mirzani adalah suaminya. Nafa pun tak lupa menyebutkan bahwa ia juga mengampuni Nikita Mirzani atas perbuatannya dengan sang suami. Dengan tegar dan sabar, Nafa masih tetap meminta Zack untuk pulang. Karena ini lah, kini setiap postingan Nikita Mirzani selalu dipenuhi komentar-komentar pedas yang menyebut janda dua anak ini sebagai pelakor, perebut laki orang.

Begitu juha dengan Ayu Ting Ting. Penyanyi Ayu Ting Ting masih menjadi pebincangan di dunia maya karena kedekatannya  dengan Raffi Ahmad. Kedekatan Raffi dengan lawan mainnya itu membuat netizen gerah karena dianggap berlebihan. Gosip perselingkuhan Raffi dan Ayu semakin gencar karena adanya bukti mereka melakukan liburan berdua ke luar negeri. Ditambah lagi, pernyataan Ayu yang menyatakan bahwa dirinya dan Raffi hanya sekedar kakak adik meski banyak bukti yang terungkap semakin membuat haters geram. Karena hal itu, Ayu pun di cap sebagai pelakor.

Julukan pelakor juga diberikan pada aktris cantik Bunga Zainal. Bunga mulai diketahui menjalin hubungan dengan seorang bos dari Production House Screenplay bernama Sukhdev Singh. Isu pernikahan Bunga Zainal dengan Sukhdev Singh, hingga saat ini memang masih menjadi misteri. Kehidupan pribadi Bunga pun seolah tertutup rapat dari publik.

Mengumbar Kemesraan di Media Sosial
Fenomena selingkuh memang bukanlah hal yang baru di masyarakat modern. Dulu mereka yang selingkuh akan melakukannya secara diam-diam. Berbeda dengan sekarang para perempuan berani mengunggah foto atau video bersama. Seperti kasus pada awal tahun ini ketika seorang dokter dengan akun nengkys yang sedang mengandung anaknya, sang suami. Dengan wajah tak berdosa, tersebar foto mereka yang terlihat sengaja mengambil gambar pertemuannya secara selfie dan mengumbarnya lewat sosial media.
Efeknya terhadap si pelakor bisa dilihat dari sisi sosial, Ia tidak akan diterima di budaya Indonesia secara luas. Konotasinya pun negatif, walaupun yang lebih sering disalahkan wanita. Namun, ada juga faktor dari laki-laki yang mengejar si perempuan tersebut. Dari kasus yang ada tidak semua salah perempuannya. Efek yang paling dirasakan dari si pelakor adalah sanksi sosial di masyarakat, cibiran dari lingkungan sekitar atau teman-teman nya, dan tidak disenangi orang.

Sosiolog Ida Ruwaida menjelaskan bahwa perselingkuhan tidak akan terjadi jika suami tidak terlibat. Dalam sebuah hubungan perselingkuhan pastilah memiliki beberapa sebab yang mendasari, dan yang paling sering dilupakan justru faktor si laki-laki. Kesalahan justru sering ditimpakan kepada perempuan. Perempuan pertama adalah istri, dituduh tak becus mengurus dan melayani suami. Perempuan kedua adalah pelakor atau si pengganggu, dia akan dihujat tak punya etika, martabat dan harga diri, juga empati karena telah merebut kebahagiaan perempuan yang lain.

Laki-laki seringkali diposisikan sebagai kebahagiaan yang diperebutkan oleh perempuan. Siapa penjahatnya, siapa korbannya, menjadi bias sejak di awal terbukanya sebuah kasus perselingkuhan. Kesalahan perselingkuhan sejak dulu sering dibebankan pada perempuan. Namun setidaknya dari berbagai kasus perselingkuhan dengan adanya kehadiran pelakor dalam rumah tangga, bisa berawal sejak lama terjadi.

Selain itu ada beberapa faktor kesalahan nyata sehingga seseorang rentan dan dengan mudahnya dicap sebagai pelakor. Menurutnya perempuan dan laki-laki yang bukan suami istri memiliki kedekatan hubungan baik terkait pekerjaan maupun tidak. Adanya bukti dan saksi atas kebersamaan mereka diluar hal pekerjaan. Bukti pembicaraan melalui telepon atau chating yang dianggap tidak biasa. Misalnya, terlalu sering dan atau dengan bahasa atau panggilan yang dianggap tidak biasa, dan atau dengan konten yang tidak seharusnya, terlalu perhatian atau terlalu vulgar. Ditemukan beberapa pemberian barang, baik barang sungguhan maupun bukti transfer uang dalam jumlah dan intensitas yang tidak biasa. Kedekatan berbanding lurus dengan munculnya informasi keretakan rumah tangga seseorang yang sedang dekat dengan orang tersebut. Terlebih jika sampai berpisah.


Pelakor Berani Menunjukan Diri Karena Tidak Ada Sanksi Sosial
Perebut laki orang atau yang akrab dikenal dengan pelakor saat ini semakin berani menunjukkan eksistensi nya di publik. Tak hanya berani muncul di tengah-tengah keluarga suami, namun berani menunjukkan nya di media sosial.
Menurut Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.Hamka, Anisia Kumala, Lc. M.Psi. pelakor berani menunjukkan dirinya di depan publik karena tidak ada sanksi sosial di masyarakat yang mengatur keberadaannya. Harus ada tindakan dari lingkungan sosial bahwa kegiatan tersebut sebenarnya tak baik. Jika orang lain mendukung atau membiarkan dan tidak bahwa hal tersebut adalah salah, maka si pelakor akan merasa bahwa kelakuan yang dialakukan masih tahap wajar. "Permasalahan ini memiliki faktor yang berbeda-beda untuk ditangai. Maka harus ada perlindungan sosial atau norma sosial sebagai payung hukum yang sah," ujar Anisia.
Menurut Anisa Kumala, kasus pelakor secara norma sosial tidak bisa diterima. Apapun alasannya. Mungkin kadang-kadang alasanya positif. Tapi kalo poligai dapet izin itu rsmi., yg jd masalah jika ga resmi itu akan menjadi masalah sakit hati pada keluaga, anak, istri. Tapi kalo pelakor atau perebut. Pasti berawal yang tidak bagus kesananya pasti dihantui beban moral pada msyarakat ersendiri. Disadrai atau dtidak. Sisi agama tidak barokah. Faktor X perlu dipastikan.  Balas dendam misalkan dulu diselingkuhi sekjarang pengen. Harus terbuika. Istri harus tau seberapa marah sang suami ke istri.

Mendapat Kebahagiaan Semu
Fenomena pelakor yang semakin berani menurut Sosiolog UI ida Ruwaida "sebenarnya perselingkuhan bukan fenomena baru. Namun, masyarakat kini semakin membesar-besarkan karena mereka menunjukan bukti ke publik. Media sosial sebagai media untuk mengungkapkan kekecewaan mereka," ujar Ida.

Dalam kasus ini sebenarnya laki-laki juga patut disalahkan. Dalam sebuah hubungan perselingkuhan pastilah memiliki beberapa sebab yang mendasari, dan yang paling sering dilupakan justru faktor si laki-laki. Kebahagiaan dalam hubungan perselingkuhan juga memberikan kerugian bagi beberapa pihak. Selain istri yang diselingkuhi, pelakor juga mendapat penilaian buruk yang tak terlupakan di lingkungan tempat tinggalnya.

Salah satu faktor pelakor semakin berani adalah karena iklim sosial di masyarakat. Kebahagiaan menjadi faktor lainnya. Seorang istri juga harus berhati-hati dalam menggunakan media sosial yang sifatnya publik ini. jika ingin menyalahkan juga perlu adanya pikiran terbuka. Bahwa bisa saja suaminya kurang memiliki rasa komitmen pada hubungan. Untuk menghindari hal tersebut dalam sebuah rumah tangga perlu adanya komunikasi yang baik. Rumah tangga yang harmonis harus didasari dengan komitmen yang kuat. Keterbukaan dan komunikasi intens.
(utin dan Dian)

e-max.it: your social media marketing partner

Artikel Terkait

Sport & Art

Investigasi

PELAKOR MASA KINI BERANI TAMPIL

PELAKOR MASA KINI BERANI TAMPIL

Jakarta, puanpertiwi.com Jika dulu pelakor (perebut laki orang) takut dan...

BISNIS JUAL LIKE DI SOSMED BELI LIKE PUN DILAKUKAN AGAR KLIEN PUAS

BISNIS JUAL LIKE DI SOSMED BELI LIKE PUN DILAKUKAN AGAR KLIEN PUAS

Fenomena hadirnya selebgram di sosial media tak bisa ditahan lagi....

Kejahatan E-Commerse Perlu Payung Hukum UU IT

Kejahatan E-Commerse Perlu Payung Hukum UU IT

Mekanisme bisnis secara elektronik ini sudah menjadi bagian dari gaya...

True Story

KARENA PENYAKIT LANGKA, SETIAP MERASA SEDIH TUBUH GADIS KECIL INI MEMBIRU

KARENA PENYAKIT LANGKA, SETIAP MERASA SEDIH TUBUH GADIS KECIL INI MEMBIRU

Puanpertiwi.com- Gadis kecil yang tak boleh merasa sedih akibat menderita...

Dari Berat 181 Kg, Amber Kini Ramping dan Jadi Ahli Make Up

Dari Berat 181 Kg, Amber Kini Ramping dan Jadi Ahli Make Up

Puanpertiwi.com- Masalah berat badan apalagi sampai obesitas, bisa membuat kepercayaan...

WAJAH TERSIRAM AIR KERAS, PASCA OPERASI PEREMPUAN INI TAMBAH CANTIK

WAJAH TERSIRAM AIR KERAS, PASCA OPERASI PEREMPUAN INI TAMBAH CANTIK

Puanpertiwi.com- Kekerasan menggunakan air keras sangat memprihatinkan dampaknya. Pasalnya Air...

IN THE MAG

edisi129.jpg EDISI127.jpg EDISI128.jpg

Tentang Kami

Puan Pertiwi merupakan situs terlengkap aktivitas dan kebutuhan perempuan.

 

Social Media

    

Kontak

PT. MBC Pertiwi Multimedia

Jl. Bungur Besar Raya Blok B.3 No.85, Lt.4 Gunung Sahari – Kemayoran Jakarta Pusat 10610

Telp : 021-4225473, 021-4212129

Fax : 021-4225468, 021-4212129

Redaksi :

redaksi @ puanpertiwi.com 

Pemasaran :

marketing @ puanpertiwi.com

Twitter

Tentang Kami | Media Kit | Advertise With Us | Career Oportunities | Pedoman Media Siber | This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.